Un Weekend à Paris

Sebelum ada blog, aku sudah memulai blog secara offline. Salah satu blog lebih mirip tumblelog: dengan tempel2an peta, kliping berita, tiket, dll. Kebetulan itu adalah blog (eh agenda) di tahun di mana aku pertama kali boleh jalan ke luar Indonesia. Dua minggu aku di Eropa: seminggu di Perancis (Lannion & Paris) dan seminggu di Spanyol (Madrid & Tolédo). Di bawah ini adalah catatan weekend yang memisahkan minggu Perancis dengan minggu Spanyol. Pesawat TAT yang terus berguncang ini akhirnya mendarat di Orly. Kita meneruskan perjalanan dengan bis ke Paris. Vendredi soir, trafik di kota Paris padat sekali, termasuk di lorong-lorong bawah tanahnya. Aku diinapkan di Hotel Ibis Clichy, daerah Montmartre, dengan sewa per kamar 495 F/night, dengan tempat tidur...

Taipei

Taipei

Biasanya penerbangan pilihanku tak jauh dari Garuda Indonesia dan Air Asia. Kebetulan perjalanan ke Taipei ini dibiayai oleh organiser; jadi tentu Garuda Indonesia jadi pilihan pertama. Sayangnya, Garuda belum memiliki penerbangan langsung ke Taipei. Alih2, dia menawarkan partner airline-nya, yaitu China Airline. Jujur, aku nggak tahu ini punya Cina yang mana. Tapi yang jelas, jadwal yang dia berikan nggak ada yang match. Jadi aku balik ke jalur online. Coba Air Asia, nggak ada jadwal yan genak juga. Harus menginap semalam di Kualalumpur. Mengincar Tunes Hotel, penuh pada malam itu. Kebayang kesulitan cari hotel kayak zaman Eyjafjallajokull itu. Akhirnya, ambil pilihan berikutnya: Singapore Airline. Kali ini jadwalnya agak pas. Transit di Singapore. OK juga....

Visa Taiwan

Bulan depan ini tugas yang menanti adalah menjadi presenter di 4G International Forum di Taipei. Taiwan (Republic of China) bukan seperti negara2 ASEAN yang memberikan fasilitas bebas visa kepada warga Indonesia. Maka, di samping harus menyusun presentasi dan menyiapkan tiket2, aku harus mengurus visa juga. Visa Taiwan bisa diurus di Taipei Economic and Trade Office Jakarta. Berikut alamatnya: Taipei Economic and Trade Office 12th Floor Gedung Artha Graha Jl Jenderal Sudirman Kav. 52-53 Jakarta 12190 Indonesia Phone: +62-21-515-1111 Aku baru menelefon kantor TETO. Ni hao :). Syarat-syarat mengurus visa adalah: Mengambil dan mengisi formulir yang disediakan di kantor TETO Membawa passport yang berlaku setidaknya hingga 6 bulan ke depan, plus passport...

Belanja Oleh-Oleh

Kunjungan ke UK bulan lalu memang sebenarnya sangat singkat. Terlalu singkat, sampai tak memiliki waktu yang memadai sekedar untuk beli oleh-oleh. Kalau dipikir sih, bahkan tidak ada waktu sekedar untuk menulis Twitter. Blog sempat diisi, memaksa diri, di gelap malam atau di dalam bis — yang sebenarnya mengurangi waktu istirahat yang singkat dan berharga. Soal oleh2, selain waktu tak banyak, juga dana yang tersedia tak banyak lagi. Gara2 letupan gunung itu sih, haha, dan aku jadi harus keluar dana dua kali untuk transportasi dll. Oh ya, tanpa banyak beli2 pun, bawaan kami tepat di batas overweight :). Souvernir2 yang sempat kami beli tak banyak. Unik, karena sebagian besar dibeli di tempat unik. Bukan di toko souvenir, tetapi di berbagai museum yang kami...

Museum Sains

Di waktu yang cukup singkat di London, kami memutuskan mengunjungi beberapa museum, dan berjalan2 di taman serta di tempat menarik lainnya. Tentu akibatnya tempat2 yang sudah terlalu umum, seperti Buckingham Palace, London Tower, Trafalgar Square, dll, jadi harus dilewati :). It’s OK. Lain hari bisa jalan2 lagi. Setelah Observatorium Greenwich, museum berikutnya yang kami kunjungi adalah Tate Modern Art Museum. Ini terletak di dekat Millenium Bridge yang memang arsitektur modern-nya mengesankan. Metal. Untuk membuatnya kontras, dari atas jembatan itu kita bisa melihat Katedral St Paul, salah satu landmark London yang — seperti juga Observatorium Greenwich — diarsitekturi oleh Sir Christopher Wren. Menyusuri Thames di bawah mendung London, kami...

National Express

Aku lebih dekat ke National Express daripada yang direncanakan. Di rencana awal, memang perjalanan darat di UK akan menggunakan kereta api dan coach. Dan demi harga tiket yang murah, aku mengambil resiko untuk mengambil tiket yang sifatnya non-refundable non-reschedulable. Selisihnya cukup jauh dengan tiket yang reschedulable, apalagi dengan yang refundable. Tapi setelah bencana Eyjafjallajökull, para operator kereta api tak cukup simpatik menanggapi permintaan rescheduling. Bukan salah mereka sih. Sikap tidak simpatik tidak melanggar hukum :). National Express menanggapi lebih simpatik. Tapi setelah korespondensi lebih lanjut, ternyata tak mudah juga untuk mengajukan reschedule ke mereka. Akhirnya: semua tiket aku beli lagi. Tiket2 lama seluruhnya...

Hotel Ibis

Hotel di UK tak sulit dicari. Ada Google dan sekian belas situs yang menawarkan hotel2 yang baik, murah, atau keduanya. Tadinya aku mau mencobai berbagai hotel. Tapi setelah perubahan planning berulang kali, dan setelah sempat reschedule juga, akhirnya tak sengaja semua hotel yang aku ambil adalah Hotel Ibis: Cardiff, Coventry, dan York. Hanya di London kami tak menginap di hotel, tetapi di Wisma Siswa Merdeka. Hotel Ibis Cardiff Hotel Ibis Coventry Centre Hotel Ibis YorkCentre Hotel Ibis sangat pas untuk turis kayak aku. Tempatnya nyaman, bersih, dan fungsi2 perangkat di dalamnya OK. Tempat tidur yang selalu bersih, kamar mandi yang bersih dan berfungsi baik, pemanas ruangan yang cepat menghangati ruangan (hey, masih dinginnnn di luar sana), colokan listrik...

Squirrels

Squirrels

Three times the squirrels messed up our journeys: in Leamington Spa, in York, and at Greenwich. In Leam, we met them in the late afternoon, after we finished having our meal in the city park. Walking for a while, we saw some small grey squirrels playing on the grass. We were so engrossed in playing and chasing them, forgetting that we should instead chase a coach from Coventry to Leeds. Finally we got to Coventry before it was too late. But we must draw our luggages at high speed into the Pool Meadow coach station. In York we were deliberately looking for the squirrels. Nine years before, I found a park where I could easily spot tame squirrels. But the park was not easily found. I forgot the name of the park, and I didn’t want to ask about “the park...

Darlington and Stockton Times

Darlington and Stockton Times

Weekend terakhir sebelum keberangkatan ke UK, kami sempat jalan-jalan ke Mal Ambassador di Cassablanca, kawasan Kuningan. Mal itu bukan di dekat kota Cassablanca atau Kuningan, tetapi masih di Jakarta. Dekat Tibet. Eh, Tebet dink. Nyaris tanpa sengaja, kaki berbelok ke Toko Buku Trimedia. Ajaib: buku pertama yang tampak adalah James Herriot’s Dog Stories! Ini adalah terjemahan dalam Bahasa Indonesia, tetapi dengan judul tetap dalam Bahasa Inggris (khas Gramedia akhir-akhir ini — Ingat “The Little Prince”). Menarik, karena terbit sekitar rencanaku kabur ke Darrowby / Thirsk; dan karena aku baru membahas Buku Herriot di blog ini beberapa hari sebelumnya. Sayangnya buku peranjingan itu tebal, jadi hanya bisa dibaca-baca di rumah. Tak praktis...

Greenwich

Dulu, kata buku-buku kuno, tidak ada standar waktu seperti sekarang. Setiap tempat, setiap kota, menentukan waktunya sendiri dengan sinkronisasi terhadap matahari. Pukul 12.00, matahari harus berada di titik tertinggi. Atau mungkin direratakan. Misalnya, saat di Malang sudah pukul 12.00, di Jayakarta barangkali masih pukul 11.35. Namun di tahun 1879, Sir Sandford Fleming (seorang ilmuwan Kanada) mengusulkan perlunya penstandaran. Ini terjadi gara-gara ia ketinggalan kereta di Irlandia akibat selisih waktu yang tercatat pada form keberangkatan kereta denga. Ia mengusulkan bumi agar dibagi menjadi 24 zone waktu, dengan setiap zone berselisih satu jam. Daerah dalam setiap zone harus memiliki waktu yang sama. Usulnya diperhatikan dan diakomodasi dalam bentuk berbeda...